MELAKUKAN PERINTAH TUHAN
Markus 7:8
Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia
Yesus menuding para pemimpin agama pada masaNya mencari celah sebagai alasan untuk tidak mengikuti hukum Allah. “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah,” kata Yesus, mengutip perintah “Hormatilah ayahmu dan ibumu” sebagai bukti (Mrk. 7:9-10). Dengan berlindung di balik ketaatan beragama, para pemimpin kaya raya yang munafik itu menelantarkan keluarga mereka sendiri. Dengan dalih uang mereka adalah “persembahan kepada Allah”, mereka menyatakan tidak perlu lagi menolong ayah dan ibu mereka yang sudah tua. Yesus pun langsung menyoroti inti permasalahannya. “Firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu,” kata-Nya (ay.13). Selain tidak menghormati orangtua mereka sendiri, mereka juga tidak menghormati Allah.
Kita hrs berhati hati dlm hal ini ketika kita di perhadapkan dgn adat istiadat yg kelihatannya baik tetapi sesungguhnya bertentangan dgn Firman Tuhan, kita hrs berani mengesampingkan adat istiadat tsb dan lebih memilih untuk mentaati Firman Tuhan,.jgn seperti dunia yg lebih memilih adat istiadat dunia.
Orang bisa berusaha membenarkan diri dgn adat istiadatnya serta menolak perintah Allah yang sudah jelas. Jika semua itu menggambarkan perilaku kita,kita hanya menipu diri sendiri. Yesus menginginkan kita untuk senantiasa mentaati Firman Tuhan dgn bantuan Roh kudus.
Beratnya tuduhan Yesus terhadap para pemuka agama (Markus 7:1,5), orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, terasa lebih menyentak jika kita memperhatikan kata-kata yang dipakaiNya. Dia menyebut mereka “orang-orang munafik” (hypokrites, ay.6). Perbuatan para pemuka agama tersebut sangat berbeda dengan keadaan mereka sebenarnya. Yesus berkata, “Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia” (ay.8). Kata yang diterjemahkan sebagai “abaikan” (aphiemi) banyak dipakai di dalam Perjanjian Baru dan mengandung arti “meninggalkan” atau “melepaskan.” Meski mereka telah “meninggalkan” perintah Allah yang berdaulat, mereka “berpegang” (krateo) pada adat istiadat mereka. Kata lain yang menyoroti kesalahan para pemuka agama itu adalah “tidak berlaku” (akyroo, suatu istilah hukum untuk “membatalkan”, ay.13). Setiap sistem yang menempatkan tradisi di atas kebenaran Allah pantas mendapat kecaman.
Biarlah kita memahami perintah Tuhan sehingga kita senantiasa taat melakukan perintah dan hukum2 nya Tuhan, berani dan tegas untuk menolak adat istiadat sehingga kita tdk berdosa di hadapan Tuhan.
Firman Tuhan dan segala perintah Tuhan adalah hal yg paling utama untuk kita lakukakan menjadi pedoman dalam kehidupan kita, sehingga Tuhan senantiasa kita agungkan dan kita muliakan. Kita hrs berhati2 dlm menyikapi tentang adat istiadat yg mungkin terlihat baik tetapi bertentangan dgn Firman Tuhan maka kita hrs berani untuk bersikap dgn memilih untuk melakukan Firman Tuhan.
Adat istiadat hanyalah buatan manusia tetapi hukum Tuhan dan Firman Tuhan adalah perintah Tuhan yg mendatangkan hidup sehingga kita harus memilih Hukum Tuhan dan mengesampingkan perintah manusia atau adat istiadat.
Terus mengagungkan dan memuliakan Tuhan melalui hidup ini dgn tetap taat kpd Firman Tuhan.
