
JIKA TUHAN MENGHENDAKI
Yakobus 4:15
Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.
Kita sering terbawa untuk meyakini bahwa kita sedang mengendalikan sendiri hidup kita dan bahwa rencana-rencana kita di masa depan pasti berhasil. Namun, Yakobus berkata, “Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap” (4:14). Hidup itu begitu singkat, lekas berlalu, dan lebih rapuh daripada yang kita sadari. Perencanaan memang perlu, tetapi kita sering jatuh ke dalam dosa kesombongan ketika menganggap bahwa kendali ada di tangan kita. Itulah sebabnya Yakobus memperingatkan kita agar tidak “memegahkan diri dalam congkak kita,” karena “semua kemegahan yang demikian adalah salah” (ay.16). Jadi segala perencanaan hidup kita kalau Tuhan tdk menghendaki maka tdk akan berhasil. Penting untuk kita selalu berdoa mohon perkenanan Tuhan dlm setiap langkah hidup kita,karena masa depan adalah bersama Tuhan, keberhasilan hidup terjadi jika kita melibatkan Tuhan dlm setiap rencana hidup kita.
Bagaiman cara menghindari kesombongan dalam perencanaan hidup adalah dengan mengikut sertakan Tuhan disertai hati penuh syukur. Rasa syukur mengingatkan kita bahwa Dialah sumber “setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna” (1:17). Jadi, saat datang kepada Allah, kita tidak meminta Dia hanya untuk memberkati rencana kita untuk saat ini dan masa depan, melainkan juga agar kita dimampukan Tuhan terlibat dalam pekerjaanNya. Itulah artinya berdoa, “Jika Tuhan menghendakinya” (4:15).
Salahkah membuat rencana? Tentu tidak. Jika kita membaca Yakobus 4:13-17 dan berpikir bahwa perencanaan yang baik adalah sesuatu yang buruk, kita gagal memahami perikop itu dan mengabaikan ajaran Kitab Suci dalam bagian2 lain. Mereka yang telah makan asam garam kehidupan tentu memahami nilai penting sebuah rencana. Demikian juga penulis Amsal 21:5, yang berkata, “Rencana orang rajin membawa kelimpahan; tindakan tergesa-gesa mengakibatkan kekurangan”. Rencana yang baik adalah suatu hal yang baik. Namun, apa yang dikritik dan dikecam Yakobus adalah jenis perencanaan yang mengabaikan Tuhan(Yakobus 4:14) serta melupakan Allah sebagai pemberi hidup (ay.15). Kitab Yakobus disebut juga “Amsal Perjanjian Baru.” Yakobus 4:13-17 menggemakan Amsal 27:1: “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu” dan mendorong kita, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hati dan janganlah bersandar kepada pengertian kita sendiri” (3:5).
Perencanaan hidup adalah sesuatu yg baik tetapi jangan sampai kesombongan karena kemampuan kita yg mendasarinya, tetapi biarlah semua itu kita taruh di tangan Nya Tuhan dan berkata bila Tuhan menghendaki.