
HIKMAT DAN PENGETAHUAN SEJATI
Pengkotbah 1:18
karena di dalam banyak hikmat ada banyak susah hati, dan siapa memperbanyak pengetahuan, memperbanyak kesedihan
Dalam dunia yang telah rusak oleh dosa, pengetahuan sering menimbulkan penderitaan. Pengkhotbah yang bijak menyatakan, “Sebab semakin banyak hikmat kita, semakin banyak pula kecemasan kita. Semakin banyak pengetahuan kita, semakin banyak pula kesusahan kita” (1:18 ). Siapa yang tidak iri melihat kepolosan seorang anak yang riang gembira? Ia belum tahu mengenai kekerasan dan kejahatan manusia. Bukankah dahulu kita lebih bahagia, sebelum kita bertumbuh dewasa dan menyadari kelemahan dan kekurangan kita. Sekarang kondisi dunia semakin hari semakin rusak oleh kejahatan manusia yg semakin pintar dgn tehnologi.
Namun, ada pengetahuan yang lebih tinggi, yang memberi kita kekuatan untuk sanggup bertahan, bahkan bertumbuh. Yesus adalah Firman Allah, terang yang bersinar dalam kegelapan kita (Yoh. 1:1-5). Dia “telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (1Kor. 1:30). Penderitaan memberi kamu alasan untuk berlari kepada Tuhan Yesus. Ingatlah, Dia mengenal dan mempedulikan kamu. Puji Tuhan nya adalah kita telah mengenal Tuhan Yesus, sumber kekuatan kita sumber hikmat Tuhan, melalui Firman kebenaran yg memberi kan pengetahuan yg benar sehingga kita memilki pegangan sejati dalam kehidupan ini sehingga tdk terbawa arus dunia yg jahat.
Kitab Pengkhotbah mungkin terasa asing jika dibandingkan dengan Kitab Amsal yang sudah kita kenal. “Perbandingan orang yang membaca Kitab Amsal dengan Kitab Pengkhotbah mungkin 1000:1.” Meski kurang populer, arti penting kitab itu tidak boleh diabaikan. Membaca Kitab Pengkhotbah seperti membaca catatan harian seorang penulis (yang dipercaya banyak orang adalah Salomo), yang mencatat pengejarannya akan kepuasan, hasil pengejaran itu, dan beberapa anjuran. Pernyataan utama kitab itu tercantum di Pengkhotbah 1:2, “Kesia-siaan belaka, . . . kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.” Bagaimana seseorang hidup di tengah realitas bahwa keberadaan duniawi kita adalah suatu karunia Allah Mahakasih? Meski pokok permasalahan itu disorot berulang kali dalam kitab ini, yakni segalanya adalah “kesia-siaan belaka”, penulis juga menekankan fakta bahwa hidup yang rapuh ini sepatutnya dijalani dengan sikap “takut akan Allah” (lihat 12:13-14). Dunia penuh dgn kesia siaan kalau tdk takut akan Tuhan, sehingga semua yg ada dlm dunia ini kekayaan dan kemegahan dunia tdk akan dapat menjamin hidup, maka Kitab Pengkotbah menyampaikan kesia siaan. Jadi hal ini menyadarkan hidup kita bahwa kita hrs senantiasa beegantung dan berharap pada Tuhan, Takut akan Tuhan dan hidup dalam kebenaran.
Tetap jaga hati kita dengan segala kewaspadaan karena dari situ terpancar kehidupan, banyak yg akan tenggelam dlm dunia yg jahat ini tetapi kita tidak karena kita memiliki pengetahuan sejati yaitu di dalam Yesus Kristus.