Jangan Berbuat Dosa Lagi

JANGAN BERBUAT DOSA LAGI

Mazmur 51:9

Basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!

Injil Yesus Kristus! Allah, melalui kematian dan kebangkitan Yesus, telah menyediakan pengampunan atas dosa² kita. Adakah dari kita yang tidak pernah merasa perlu membersihkan diri dari segala lumpur dan kotoran dosa yang melekat dalam hidup ini, tentunya kita harus membersihkan diri dengan memohon ampun kepada Tuhan Yesus. Ketika kita dinodai dosa oleh pemikiran atau perilaku egois yang merugikan diri sendiri maupun orang lain, serta hilangnya damai sejahtera karena dosa, maka kita harus sungguh-sungguh meminta ampunan kepada Tuhan dan tidak melakukan dosa lagi. Mazmur 51 adalah seruan Daud ketika ia telah jatuh oleh godaan dosa. Ketika seorang nabi menegur sang raja tentang dosanya (lihat 2Sam. 12), Daud mengucapkan doa “Bersihkan aku!”: “Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!” (ay.9).

Ketika kita berdosa maka kita harus berlutut memohon ampun atas dosa² kita. Dan setelah itu jangan berbuat dosa lagi.

Apakah kita merasa kotor dan berdosa? Datanglah kepada Yesus dan ingatlah firman ini: Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan (1Yoh. 1:9).

Mazmur 51 adalah doa pengakuan dosa Daud. Mengenai dosanya dengan Batsyeba, ada latar belakang budaya yang mungkin tidak kita sadari.
Pertama, sebagai raja, Daud memiliki kuasa absolut dan ia dapat melakukan apa saja yang diingininya dan bebas dari hukuman (kecuali dari Allah yang selalu mengawasi). Jadi, Batsyeba, istri Uria, tidak punya suara atau hak dalam hal ini.
Kedua, tema utama dari peristiwa itu adalah perbandingan antara Daud dan Uria tentang siapa yang dihormati dan siapa yang terhina. Perbandingan kehinaan dan kehormatan seperti itu selalu terjadi di hadapan umum, dan itulah alasan Uria menolak untuk pulang dan untuk seakan-akan membenarkan kehamilan istrinya.
Ketiga, setelah Batsyeba diperkenalkan (2 Samuel 11:3), namanya tidak disebutkan lagi sampai ia mengandung Salomo (12:24). Di antara kedua peristiwa itu ia selalu disebut “istri Uria”, yang jelas menekankan maksud Alkitab dalam mengungkapkan dosa Daud, baik terhadap Batsyeba maupun Uria.

Jangan berbuat dosa lagi inilah yang harus kita lakukan dan selalu menjaga kekudusan hidup, karena kita menghargai penebusan dan pengorbanan Tuhan Yesus.

Tinggalkan komentar


Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai